Kamis, 16 Oktober 2014

DERMATITIS KONTAK IRITAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dermatitis merupkan salah satu penyakit yang timbul gangguan pada sistem imun, dermatitis kontak merupakan suatu berntuk penyakit yangdisebabkan hipersensivitas IV, dan diawali oleh kontak langsung antara bahan allergik dan lain-lain.
Ada banyak factor pencetus penyakit tersebut, dan perlu untuk diketahui oleh semua kalangan masyarakat, demi mewujudkan hal tersebut maka penulis membuat sebuah makalah yang berisikan tentang materi dermatitis.
Di Era globalisasi saat ini, Perawat seharusnya mampu menguasai tentang konsep medis sehingga perawat dapat mengantisipasi secara dini mengenai dermatitis kontak iritan.
B.    Tujuan
Adapun beberapa tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.    Memberikan pengetahuan mengenai defenisi dari Dermatitis kontak iritan.
b.    Memberikan pengetahuan mengenai etiologi dari Dermatitis kontak iritan.
c.    Memberikan pengetahuan mengenai patofisiologi Dermatitis kontak iritan.
d.    Memberikan pengetahuan mengenai manifestasi klinis dari Dermatitis kontak iritan.
e.    Memberikan pengetahuan mengenai pemeriksaan diagnostik pada penyakit Dermatitis kontak iritan.
f.    Memberikan pengetahuan mengenai penatalaksanaan Dermatitis dan kontak iritan jika dipandang dari segi medis dan keperawatan.
g.    Memberikan pengetahuan mengenai  upaya pencegahan Dermatitis kontak iritan.
BAB II
ISI
A.    Konsep Medis
1.    Definisi
Dermatitis kontak iritan adalah efek sitotosik lokal langsung dari bahan iritan pada sel-sel epidermis, dengan respon peradangan pada dermis. Daerah yang paling sering terkena adalah tangan dan pada individu atopi menderita lebih berat. Secara definisi bahan iritan kulit adalah bahan yang menyebabkan kerusakan secara langsung pada kulit tanpa diketahui oleh sensitisasi. Mekanisme dari dermatis kontak iritan hanya sedikit diketahui, tapi sudah jelas terjadi kerusakan pada membran lipid keratisonit.
Dermatitis kontak iritan merupakan reaksi peradangan setempat yang non-imunologik pada kulit sesudah mendapat paparan iritan baik satu kali maupun berulang. Paparan sekali (tidak disengaja atau kecelakaan) biasanya dari iritan asam, basa dan sebagainya. Sedangkan paparan berulang yang merusak kulit secara kumulatif misalnya iritan yang lebih kecil dosisnya.
Menurut kelompok kami, dermatitis kotak iritan adalah reaksi peradangan yang timbul akibat terpapar suatu zat kimia yang dapat menimbulkan lesi.
2.    Etiologi
Penyebab timbulnya dermatitis kontak iritan cukup rumit dan biasanya melibatkan gabungan berbagai iritan. Iritan adalah substansi yang akan menginduksi dermatitis pada setiap orang jika terpapar pada kulit dalam konsentrasi, waktu dan frekuensi yang cukup. Iritasi pada kulit merupakan sebab terbanyak dari dermatitis kontak. Beberapa contoh iritan akibat kerja yang lazim dijumpai adalah sebagai berikut :
a.    Sabun, detergen, dan pembersih lainnya.
b.    Bahan-bahan  industri, seperti petroleum, klorinat hidrokarbon, etil, eter, dan lain-lain.
Faktor predisposisinya mencakup keadaan panas dan dingin yang ekstrim, kontak yang frekuen dengan sabun serta air, dan penyakit kulit yang sudah ada sebelumnya.
Penggunaan berulang dari sabun basa kuat dan produk industri dapat merusak struktur lunak pada sel. Asam dapat larut pada air dan menyebabkan dehidrasi pada kulit. Ketika kulit telah mengalami gangguan, pajanan dari bahan iritan lemah pun dapat menyebabkan inflamasi pada kulit. Besar intensitas dari inflamasi bergantung pada konsentrasi dari iritan dan lamanya terpajan dari bahan iritan tersebut. Iritan yang lembut dapat menyebabkan kulit kering, fissura, dan eritema. A mild eczematous reaction dapat timbul pada eksposure yang berkelanjutan. Pajanan yang berkelanjutan pada daerah seperti tangan, area diaper, atau pada sekeliling kulit yang terkadang menyebabkan eczematous inflamatour. Zat kimia kuat dapat menyebabkan reaksi yang berat.
Masing-masing individu memiliki predisposisi yang berbeda terhadap berbagai iritan, tetapi jumlah yang rendah dari iritan menurunkan dan secara bertahap mencegah kecenderungan untuk menginduksi dermatitis. Fungsi pertahanan dari kulit akan rusak baik dengan peningkatan hidrasi dari stratum korneum (oklusi, suhu dan kelembaban tinggi, bilasan air yang sering dan lama) dan penurunan hidrasi (suhu dan kelembaban rendah). Tidak semua pekerja di area yang sama akan terkena. Siapa yang terkena tergantung pada predisposisi individu (riwayat atopi misalnya), personal higiene dan luas dari paparan. Iritan biasanya mengenai tangan atau lengan.
3.    Patofisiologi
Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut akan berdifusi melalui membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Dengan rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan sistem kinin. Juga akan menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan histamin, prostaglandin dan leukotrin. PAF akan mengaktivasi platelets yang akan menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan merangsang ekspresi gen dan sintesis protein. Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratinosit dan keluarnya mediator- mediator. Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak alergik sangat tipis yaitu dermatitis. Kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi.
Ada dua jenis bahan iritan yaitu : iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang, sedang iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulang-ulang. Faktor kontribusi, misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklusi, mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut. (Hetharia, Rospa. Halaman 95-96)
4.    Manifestasi Klinis
Dua jenis bahan iritan, maka dermatitis kontak iritan juga ada dua macam yaitu dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis kontak iritan kronis. Dermatititis kontak iritan akut. Penyebabnya iritan kuat, biasanya karena kecelakaan. Kulit terasa pedih atau panas, eritema, vesikel, atau bula. Luas kelainan umumnya sebatas daerah yang terkena, berbatas tegas.
Pada umumnya kelainan kulit muncul segera, tetapi ada segera, tetapi ada sejumlah bahan kimia yang menimbulkan reaksi akut lambat misalnya podofilin, antralin, asam fluorohidrogenat, sehingga dermatitis kontak iritan akut lambat. Kelainan kulit baru terlihat setelah 12-24 jam atau lebih. Contohnya ialah dermatitis yang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis venenata); penderita baru merasa pedih setelah esok harinya, pada awalnya terlihat eritema dan sorenya sudah menjadi vesikel atau bahkan nekrosis.
Dermatitis kontak iritan kronis atau dermatitis iritan kumulatif, disebabkan oleh kontak dengan iritan lembah yang berulang-ulang (oleh faktor fisik, misalnya gesekan, trauma mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin; juga bahan contohnya detergen, sabun, pelarut, tanah, bahkan juga air). Dermatitis kontak iritan kronis mungkin terjadi oleh karena kerjasama berbagai faktor. Bisa jadi suatu bahan secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan dermatitis iritan, tetapi bila bergabung dengan faktor lain baru mampu. Kelainan baru nyata setelah berhari-hari, berminggu atau bulan, bahkan bisa bertahun-tahun kemudian. Sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan faktor paling penting. Dermatitis iritan kumulatif ini merupakan dermatitis kontak iritan yang paling sering ditemukan.
Gejala klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal (hiperkeratosis) dan likenifikasi, batas kelainan tidak tegas. Bila kontak terus berlangsung akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisur), misalnya pada kulit tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan deterjen. Ada kalanya kelainan hanya berupa kulit kering atau skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh penderita. Setelah kelainan dirasakan mengganggu, baru mendapat perhatian. Banyak pekerjaan yang beresiko tinggi yang memungkinkan terjadinya dermatitis kontak iritan kumulatif, misalnya : mencuci, memasak, membersihkan lantai, kerja bangunan, kerja di bengkel dan berkebun.
5.    Pemeriksaan Diagnostik
Pengkajian pasien gangguan alergik umumnya mencakup pemeriksaan darah, sediaan apus sekresi tubuh test kkulit dan RASt (Radioallergosorbent test)  hasil pemeriksaan darah akan memberikan data-data yang suportif untuk pelbagai kemungkinan diagnostik, kendati demikian tes darah hasil laboratorium bukan Kriteria utama dalam pemeriksaan gangguan alergik. Pemeriksaan awal dapat mencakup pemeriksaan ini :
Hitung darah lengkap dan hitung jeniseosinofil dalam keadaan normal merupakan 1% sampai 4% dari jumlah total sel darah putih. Tingkat antara 5% sampai 15% adalah nonspesifik tetapi benar-benar menunjukkan reaksi alergik.
Eosinofilia sedang 15%hingga 40% leukosit dalam darah sebagai eosinofel ditemukan pada pasien  gangguan alerik disamping pasien gangguan malignitas, immunodefisiensi, infeksi parasit, penyakit jantung congenital, dan pada pasien yang mengalamidialisis peritoneal.
Kadar  total  serum Ig E, kadar total serum IgE, yang tinggi mendukung diagnosis penyakit atopik ; kendati demikian, kadar IGE yang normal tidak menyingkirkan kemungkinan diagnosisi gangguan alergik. Kadar IgE tidak sesensitif pemeriksaan PRIST (paper radio immunosorbent test) dan ELISA (Enzyme-linked immunosrbent assay).
Tes kulit. Tes kulit mencakup penyuntikan intra dermal atau aplikasi superficial yang dilakukan secara bersamaan waktunya pada tempat-tempat terpisah dengan menggunakan beberapa jenis larutan. Larutan ini masing-masing mengandung antigen yang mewakili suatu jenis alergen, termasuk tepung sari.
Tes provokasi, tes provokasi meliputi pemberian allergen secara langsung pada mukosa respiratorius dengan mengamati respon target tersebut. Tipe pengujian ini sangat membantu dalam mengena allergen yang bermakna secara klinis pada pasien-pasien dengan hasil positif, kekurangan yang utama pada tipe pengujian ini adalah keterbatasan satu antigen persesi dan risike timbulnya gejala yang berat, khususnya bronkhospasme pada pasien asma.
“Tes radioallergosorbent, merupakan test pemeriksaan kadar IgE. Spesifik allergen. Sample serum pasien dikenakan dalam jumlah kompleks allergen yang dicurigai. Jika terdapat antibody, kompleks ini akan berikatan dengan allergen yang berlabel-radio aktif” (Smeltzer, Suzanne C, halaman 1760-1763)
6.    Penatalaksanaan
a.    Penatalaksanaan Medis.
1)    Kortikosteroid
2)    Antihistamin
3)    Krim hidrofilik atau vaselin
4)    Kortikosteroid topical
5)    Antibiotik
b.    Penatalaksanaan Keperawatan.
1)    Berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya dalam pemberian jenis  obat-obatan seperti Kortikosteroid, Radiasi ultraviolet, Imunosupresif topical, Siklosporin A, Antibiotika dan antimikotika, Pengobatan sistemik sesuai dengan medik.
2)    berikan pendidikan kesehatan kepada klien bahwa gejala gatal berhubungan dengan penyebanya (misal keringnya kulit) dan prinsip terapinya (misal hidrasi) dan siklus gatal-garuk-gatal-garuk. Rasionalisasi dengan mengetahui proses fisiologis dan psikologis dan prinsip gatal serta penangannya akan meningkatkan rasa kooperatif
3)    hindarkan binatang peliharaan. Rasionalisasi jika alergi terhadap bulu binatang sebaiknya hindari memelihara binatang atau batasi keberadaan binatang di sekitar area rumah. dan lain-lain.
7.    Pencegahan
Pencegahan dermatitis kontak berarti menghindari kontak dengan zat seperti poison ivy atau sabun keras yang dapat menyebabkan hal itu. Strategi pencegahan meliputi:
a.    Bilas kulit dengan air dan gunakan sabun ringan jika dermatitis karena kontak dengan suatu zat. Usahakan mencuci untuk menghapus banyak iritan atau alergen dari kulit Anda. Pastikan untuk membilas sabun sepenuhnya dari tubuh Anda.
b.    Kenakan kapas atau sarung tangan plastik ketika melakukan pekerjaan rumah tangga untuk menghindari kontak dengan pembersih atau larutan.
c.    Jika di tempat kerja, memakai pakaian pelindung atau sarung tangan untuk melindungi kulit Anda terhadap senyawa berbahaya.
d.    Oleskan krim atau gel penghalang untuk kulit Anda untuk memberikan lapisan pelindung. Juga, gunakan pelembab untuk mengembalikan lapisan terluar kulit dan untuk mencegah penguapan kelembaban.
e.    Gunakan deterjen ringan, tanpa wewangian saat mencuci pakaian, handuk dan selimut. Coba lakukan siklus bilas tambahan pada mesin cuci.(http://medicastore.com/penyakit/74/Dermatitis_Kontak.html)
8.    Penyimpangan KDM
A.    Konsep Asuhan Keperawatan
1.    Pengkajian
Untuk menetapkan bahan kimia penyebab dermatitis kontak iritan diperlukan anamnesis yang teliti, riwayat penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisik dan uji tempel.
Pada anamnesis perlu juga ditanyakan riwayat atopi, perjalanan penyakit, pekerjaan, hobi, riwayat kontaktan dan pengobatan yang pernah diberikan oleh dokter maupun dilakukan sendiri, obyek personal meliputi pertanyaan tentang pakaian baru, sepatu lama, kosmetika, kaca mata, dan jam tangan serta kondisi lain yaitu riwayat medis umum dan mungkin faktor psikologik.
Pemeriksaan fisik didapatkan adanya eritema, edema dan papula disusul dengan pembentukan vesikel yang jika pecah akan membentuk dermatitis yang membasah. Lesi pada umumnya timbul pada tempat kontak, tidak berbatas tegas dan dapat meluas ke daerah sekitarnya. Karena beberapa bagian tubuh sangat mudah tersensitisasi dibandingkan bagian tubuh yang lain maka predileksi regional diagnosis regional akan sangat membantu penegakan diagnosis.
Kriteria diagnosis dermatitis kontak alergik adalah :
a.    Adanya riwayat kontak dengan suatu bahan satu kali tetapi lama, beberapa kali atau satu kali tetapi sebelumnya pernah atau sering kontak dengan bahan serupa.
b.    Terdapat tanda-tanda dermatitis terutama pada tempat kontak.
c.    Terdapat tanda-tanda dermatitis disekitar tempat kontak dan lain tempat yang serupa dengan tempat kontak tetapi lebih ringan serta timbulnya lebih lambat, yang tumbuhnya setelah pada tempat kontak.
d.    Rasa gatal
e.    Uji tempel dengan bahan yang dicurigai hasilnya positif.
2.    Diagnosis Keperawatan
a.    Nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan kulit.
b.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Inflamasi dermatitis, respon menggaruk.
c.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan perlindungan kulit.
d.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder akibat penyakit.
e.    Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.
3.    Intervensi dan Rasional
a.    Nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan kulit,ditandai dengan :
1)    Keluhan nyeri
2)    Klien tampak meringis
3)    Klien tampak melindungi diri akibat nyeri
Tujuan dan kriteria hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam, diharapkan nyeri berkurang atau terkontrol dengan kriteria:
1)    Pernyataan verbal klien bahwa nyeri berkurang atau terkontrol.
2)    Tanda vital dalam batas normal
3)    Ekspresi tenang/nyaman
Intervensi dan rasional:
1)    Catat keluhan nyeri, termasuk lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10).
Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan sebelumnya dimana dapat membantu mendiagnosa etiologi dan terjadinya komplikasi.
2)    Pertahankan suhu lingkungan nyaman, berikan lampu penghangat, penutup tubuh hangat.
Sumber panas eksternal perlu untuk mencegah menggigil.
3)    Libatkan pasien dalam penentuan jadwal aktivitas, pengobatan, pemberian obat.
Meningkatkan rasa kontrol pasien dan kekuatan mekanisme koping.
4)    Berikan tindakan kenyamanan dasar, contohnya pijatan pada area yang tidak sakit, perubahan posisi dengan sering.
Meningkatkan relaksasi; menurunkan tegangan otot dan kelelahan umum
5)    Anjurkan penggunaan teknik manajemen stress
Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan meningkatkan rasa kontrol, yang dapat menurunkan ketergantungan farmakologis.
b.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Inflamasi dermatitis, respon menggaruk ditandai dengan :
1)    Adanya skuama kering, basah atau kasar.
2)    Adanya krusta kekuningan dengan bentuk dan besar bervariasi.
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperatawan selama 3×24 jam diharapkan kerusakan integritas kulit dapat membaik dengan kriteria hasil:
1)    Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka yang terdapat lesi.
2)    Tidak adanya tanda-tanda infeksi seperti rubor, kalor, dolor, tumor, fungsi lausea.
3)    Menunjukkan regenerasi jaringan kulit.
Intervensi dan rasional:
1)    Kaji integritas kulit, catat perubahan pada turgor, gangguan warna, hangat lokal, eritama.
Kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan imobilisasi. Jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak.
2)    Anjurkan agar permukaan kulit tetap kering dan bersih. Batasi penggunaan sabun.
Area lembab, terkontaminasi memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan dan meningkatkan iritasi.
3)    Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun, salep, dan bedak kecuali diijinkan dokter.
Dapat meningkatkan iritasi atau reaksi secara nyata.
4)    Berikan perawatan kulit sering, meminimalkan dengan kelembaban atau ekskresi.
Terlalu kering atau lembab merusak kulit dan mempercepat kerusakan.
5)    Berikan obat sesuai indikasi: Antihistamin.
Menghilangkan gatal.
c.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan perlindungan kulit, ditandai dengan:
1)    Demam
2)    Luka terdapat eksudat
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelalah melakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam, infeksi dapat di hindari dengan kriteria  hasil:
1)    Tanda-tanda vital dalam batas normal
2)    Tidak adanya tanda-tanda infeksi seperti rubor, kalor, dolor, tumor, fungsi lausea.
Intervensi dan rasional:
1)    Awasi atau batasi pengunjung bila perlu. Jelaskan prosedur isolasi terhadap pengunjung bila perlu.
Mencegah kontaminasi silang dari pengunjung. Masalah resiko infeksi harus seimbang mengalawan kebutuhan pasien utuk dukungan keluarga dan sosialisasi.
2)    Implementasikan teknik isolasi yang tepat sesai indikasi.
Tergantung tipe/luasnya luka dan isolasi dapat direntang dari luka sederhana/kulit sampai komlpit/sebaiknya untuk menurunkan resiko kontaminasi silang/ terpajannya pada florea bakteri multipel
3)    Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dengan pasien.
Mencegah kontaminasi silang; menurunkan resiko infeksi.
4)    Periksa luka tiap hari, periksa/catat perubahan penampilan, bau, atau kualitas drainase.
Mengidentifikasi adanya penyembuahan dan memberikan deteksi dini infeksi.
5)    Awasi  tanda vital untuk demam, peningkatan frekwensi kedalaman pernafasan sehubungan dengan perubahan sensori, adanya diare, penurunan jumlah trombosit dan hipoglikemia dan glikosuria.
Indikasi sepsis memerlukan evaluasi cepat dan intervensi.
d.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder akibat penyakit, ditandai dengan :
1)    Klien merasa malu.
2)    Tidak melihat / menyentuh bagian tubuh yang terganggu.
3)    Menyembunyikan bagian tubuh secara berlebihan.
4)    Perubahan dalam keterlibatan sosial.
Tujuan dan kriteria hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam, diharapkan klien dapat menerima perubahan citra tubuhnya , dengan kriteria hasil:
1)    Menyatakan perasaan tentang penyakitnya.
2)    Membuat gambaran diri lebih nyata.
3)    Mengakui diri sebagai individu yang mempunyai tanggung jawab sendiri.
Intervensi dan Rasional:
1)    Kaji persepsi klien tentang kondisi tubuhnya saat ini.
Alat dalam mengidentifikasi/mengartikan masalah untuk memfokuskan perhatian dan intervensi secara konstruktif.
2)    Catat bahas tubuh non verbal, prilaku negatif/bicara sendiri. Kaji prilaku diri.
Dapat menunjukkan depresi atau keputusasaan, kebutuhan untuk pengkajian lanjut/intervensi lebih intensif.
3)    Pertahankan tindakan tenang, meyakinkan, akui terima pengungkapan perasaan terhadap dirinya.
Dapat membantu menghilangkan takut pasien akan rasa malu, sulit bergaul, ketidakmampuan berkomunikasi dengan orang lain.
4)    Ajurkan pasien untuk menerima situasi pada tahap masalah yang kecil.
Merasa sehat/mengalami kesulitan dalam  mengatasi gambaran yang lebih besar tatapi dapat mengatasi satu bagian pada saat itu.
5)    Anjurkan orang terdekat untuk mengobati pasien secara baik dan tidak sebagai orang yang depresi.
Penyimpangan harga diri dapat tidak disadari penguatannya.
e.    Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya sumber informasi, ditandai dengan :
1)    Pasien sering bertanya / minta informasi.
2)    Pernyataan salah tentang dermatitis kontak iritan.
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×45 Menit, Diharapkan klien mengetahui tentang penyakitnya dengan kriteria hasil:
1)    Klien dapat menjelaskan kembali tentang penyakitnya dengan menggunakan bahasanya sendiri.
2)    Klien tidak bertanya-tanya lagi tentang penyakitnya.
Intervensi dan rasional:
1)    Kaji ulang prognosis harapan yang akan datang.
Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan info.
2)    Diskusikan harapan pasien kembali kerumah, bekerja, dan aktivitas normal.
Pasien sering mengalami kesulitan memutuskan pulang. Masalah sering terjadi yang mempengaruhi keberhasilan menilai tindakan hidup normal.
3)    Identifikasi keterbatasan spesifik aktivitas sesuai individu.
Kemungkinan pembatasan tergantung pada berat/cedera dan tahap penyembuhan.
4)    Anjurkan pasien atau keluarga pasien tentang kelelahan, kebosanan, emosi labil, masalah pengambilang keputusan. Memberi informasi tentang kemungkinan diskusi/interaksi dengan penasehat profesional yang tepat.
Memberikan pandangan terhadap beberapa masalah pasien/orang terdekat dapat menambah/membantu mereka menjadi waspada bahwa batuan/pertolongan tersedia bila perlu.
5)    Tekankan perlunya/pentingnya mengevaluasi/rehabilitasi.
Dukungan jangka panjang dengan evaluasi ulang pentingnya dan perubahan terapi dibutuhkan untuk mencapai penyembhan optimal.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dermatitis kontak iritan adalah efek sitotosik lokal langsung dari bahan iritan pada sel-sel epidermis, dengan respon peradangan pada dermis. Dermatitis kontak iritan ini disebabkan oleh terpapan oleh zat-zat kimia seperti:
a.    Sabun, detergen, dan pembersih lainnya.
b.    Bahan-bahan  industri, seperti petroleum, klorinat hidrokarbon, etil, eter, dan lain-lain.
Dermatitis kontak iritan ini dapat dicegah yaitu dengan cara: Bilas kulit dengan air dan gunakan sabun ringan jika dermatitis karena kontak dengan suatu zat. Usahakan mencuci untuk menghapus banyak iritan atau alergen dari kulit Anda. Pastikan untuk membilas sabun sepenuhnya dari tubuh Anda, Jika di tempat kerja, memakai pakaian pelindung atau sarung tangan untuk melindungi kulit Anda terhadap senyawa berbahaya. Gunakan deterjen ringan, tanpa wewangian saat mencuci pakaian, handuk dan selimut. Coba lakukan siklus bilas tambahan pada mesin cuci.
B.    Saran
Dari pembahasan diatas, maka penulis dapat memberikan saran kepada pembaca, diantaranya yaitu:
1.    Untuk menjaga kontak langsung dengan bahan kimia yang memiliki konsentrasi tinggi terutama bagi orang-orang yang memiliki riwayat alergi sebelumnya agar dapat terhindar dari penyakit dermatitis kontak iritan.
2.    Selalu menjaga kebersihan diri saat terpapar dengan bahan kimia.
3.    Segera memeriksakan diri bila terkena dermatitis kontak iritan.
DAFTAR PUSTAKA
Hetharia, Rospa. 2009. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta:Trans Info Median
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan:Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian perawatan Pasien. Jakarta:EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC
http://medicastore.com/penyakit/74/Dermatitis_Kontak.html
http://www.irwanashari.com/2009/09/dermatitis-kontak-iritan.html

Komentar :

ada 0 Comment ke “ DERMATITIS KONTAK IRITAN ”
dr danny satriyo. Diberdayakan oleh Blogger.