Rabu, 26 Desember 2012

Prolaps Uteri

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Prolapsus uteri adalah pergeseran letak uterus ke bawah sehingga serviks berada di dalam orifisium vagina ( prolapsus derajat 1 ), serviks berada di luar orifisium (prolapses derajat 2 ), atau seluruh uterus berada di luar orifisium.
Prolapsus uteri disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya karena kelemahan jaringan ikat di rongga panggul, perlukaan jalan lahir. Menopause juga faktor pemicu terjadinya prolapsus uteri. Pada prolapsus uteri gejala sangat berbeda-beda dan bersifat individual. Kadang kala penderita dengan prolaps yang sangat berat tidak mempunyai keluhan apapun, sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan.
Juga di Indonesia sejak zaman dahulu telah lama dikenal istilah peranakan turun dan peranankan terbalik. Dewasa ini penentuan letak alat genital bertambah penting artinya bukan saja untuk menangani keluhan-keluhan yang ditimbulkan olehnya, namun juga oleh karena diagnosis letak yang tepat perlu sekali guna menyelenggarakan berbagai tindakan pada uterus.
1.2  Tujuan
Diharapkan mahasiswa mampu :
1.      Memahami definisi prolapse uteri
2.      Mengetahui anatomi prolapse uteri
3.      Mengetahui langkah kejadian prolapse uteri
4.      Memahami etiologi prolapse uteri
5.      Mengetahui fistopatologi prolapse uteri
6.      Menyebutkan klasifikasi prolapse uteri
7.      Menentukan diagnose prolapse uteri
8.      Melaksanakan penatalaksanaan prolapse uteri
9.      Memahami prognosa prolapse uteri
1.3  Manfaat
1.      Mahasiswa dapat menjelaskan definisi prolapse uteri
2.      Mahasiswa dapat mengetahui anatomi prolapse uteri
3.      Mahasiswa dapat menjelaskan langkah kejadian prolapse uteri
4.      Mahasiswa dapat menjelaskan etiologi prolapse uteri
5.      Mahasiswa dapat mengetahui fistopatologi prolapse uteri
6.      Mahasiswa dapat mengidentifikasi prolapse uteri
7.      Mahasiswa dapat menentukan diagnose prolapse uteri
8.      Mahasiswa dapat melaksanakan penatalaksanaan prolapse uteri
9.      Memahami prognosa prolapse uteri
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Difinisi Prolaps Uteri
Prolapsus uteri adalah keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen-ligamen (penggantung), fasia (sarung) dan otot dasar panggul yang menyokong uterus. sehingga dinding vagina depan jadi tipis dan disertai penonjolan kedalam lumen vagina. Sistokel yang besar akan menarik utero vesical junction dan ujung ureter kebawah dan keluar vagina, sehingga kadang-kadang dapat menyebabkan penyumbatan dan kerusakan ureter. Normalnya uterus tertahan pada tempatnya oleh ikatan sendi dan otot yang membentuk dasar panggul. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause, persalinan lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pada kala II, penatalaksanaan pengeluaran plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Oleh karena itu prolapsus uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat

2.2 Anatomi
ANATOMI PANGGUL dan STRUKTUR PENYANGGA ORGAN PANGGUL
Secara anatomis, organ panggul seperti vagina – uterus – kandung kemih dan rektum dipertahankan pada posisi yang normal dalam panggul oleh sepasang muskulus levator ani bilateral yang kearah posterior mengalami fusi.
Celah muskulus levator ani di bagian anterior disebut sebagai hiatus levator ani.
Kearah inferior, hiatus levator ani tertutup dengan diafragma urogenitalis.
Saat masuk kedalam panggul, urethra – vagina dan rektum melintas hiatus levator ani dan diafragma urogenitalis. Fascia endopelvikum adalah fascia organ visera panggul yang membentuk kondensasi bilateral dalam bentuk ligamentum (yaitu ligamentum pubourethralis – kardinalis dan uterosakralis). Ligamentum tersebut menempelkan organ dengan fascia dinding lateral pelvis dan tulang panggul.

Ligamentum Pelvik

Corpus Perineal adalah titik pusat seluruh otot panggul. Meskipun saat meneran isi cavum abdomen mendesak organ panggul, organ panggul akan tetap berada pada tempatnya dan berada diatas “levator sling” dan corpus perinealis.
2.3 Langkah Kejadian
Normalnya uterus tertahan pada tempatnya oleh ikatan sendi dan otot yang membentuk dasar panggul. Prolapsus uteri terjadi ketika ikatan sendi atau otot-otot dasar panggul meregang atau melemah, membuat sokongan pada uterus tidak adekuat. Faktor penyabab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause. Persalinan lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pada kala II, penatalaksanaan pengeluaran plasenta , reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah
2.4 Etiologi
Etiologi dari prolapsus uteri terdiri dari : Kelemahan jaringan ikat pada daerah rongga panggul, terutama jaringan ikat tranversal. Pertolongan persalinan yang tak terampil sehingga meneran terjadi pada saat pembukaan belum lengkap. Terjadi perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan lemahnya jaringan ikat penyangga vagina. Serta ibu yang banyak anak sehingga jaringan ikat di bawah panggul kendor. Menopause juga dapat menyebabkan turunnya rahim karena produksi hormon estrogen berkurang sehingga elastisitas dari jaringan ikat berkurang dan otot-otot panggul mengecil yang menyebabkan melemahnya sokongan pada rahim
Dasar panggul yang lemah oleh kerusakan dasar panggul pada partus (rupture perinea atau regangan) atau karena usia lanjut. Menopause, hormon estrogen telah berkurang sehingga otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Tekanan abdominal yang meninggi karena ascites, tumor, batuk yang kronis atau mengejan (obstipasi atau strictur dari tractus urinalis). Partus yang berulang dan terjadi terlampau sering. Partus dengan penyulit. Tarikan pada janin sedang pembukaan belum lengkap. Ekspresi menurut creede yang berlebihan untuk mengeluarkan placenta.
Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas. Ascites dan tumor-tumor didaerah pelvis mempermudah terjadinya hal tersebut. Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara, factor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus.
2.5 Fisto Patologi
2.5.1 Fisiologis
Posisi serta letak uterus dan vagina dipertahankan oleh ligament, fascia serta otot-otot dasar panggul. Te Linde (1966) membagi atas 4 golongan, yaitu :
Ligamen-ligamen yang terletak dalam rongga perut dan ditutupi oleh peritonium :
ligamentum rotundum (lig teres uteri) : ligamentum yang menahan uterus dalam antefleksi dan berjalan dari sudut fundus uteri kiri dan kanan ke daerah inguinal kiri dan kanan.
Ligamentum sacrouterina : ligamentum yang juga menahan uterus supaya tidak banyak bergerak, berjalan melengkung dari bagian belakang serviks kiri dan kanan melalui dinding rektum ke arah os sacrum kiri dan kanan.
Ligamentum cardinale (Mackenrodt) : ligamentum yang terpenting untuk mencegah agar uterus tidak turun. Ligamentum ini terdiri atas jaringan ikat tebal dan berjalan dari serviks dan puncak vagina ke arah lateral ke dinding pelvis. Di dalamnya ditemukan banyak pembuluh darah a v uterina.
Ligamentum latum : ligamentum yang berjalan dari uterus ke arah lateral dan tidak banyak mengandung jaringan ikat. Sebetulnya ligamentum ini adalah bagian peritoneum visceral yang meliputi uterus dan kedua tuba dan berbentuk sebagai lipatan. Di bagian lateral dan belakang ligamentum ini ditemukan indung telur (ovarium sinistrum dan dekstrum). Untuk memfiksasi uterus ligamentum ini tidak banyak artinya.
Ligamentum infundibulopelvikum (lig. Suspensorium ovarii) : ligamentum yang menahan tuba fallopii, berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis. Didalamnya ditemukan urat saraf, saluran-saluran limfe, a v ovarika. Sebagai alat penunjang ligamentum ini tidak banyak artinya.
Jaringan –jaringan yang menunjang vagina
Fasia puboservikalis (antara dinding depan vagina dan dasar kandung kemih) membentang dari belakang simfisis ke serviks uteri melalui bagian bawah kandung kencing, lalu melingkari urethra menuju ke dinding depan vagina. Kelemahan fasia ini menyebabkan kandung kencing dan juga uretra menonjol ke arah lumen vagina.
Fasia rektovaginalis (antara dinding belakang vagina dan rectum). Kelemahan fasia ini menyebabkan menonjolnya rektum ke arah lumen vagina.
Kantong Douglas
Dilapisi peritonium yang berupa kantong buntu yang terletak antara ligamentum sacrouterinum di sebelah kanan dan kiri , vagina bagian atas di depan dan rektum di belakang. Di daerah ini, oleh karena tidak ada otot atau fasia, tekanan intraabdominal yang meninggi dapat menyebabkan hernia (enterokel).
Otot-otot dasar panggul, terutama otot levator ani
Dasar panggul terdiri dari :
*      diafragma pelvis
*      diafragma urogenital
*      otot penutup genitalia eksterna
Diafragma pelvis :
*      otot levator ani : iliokoksigeus, pubokoksigeus dan puborektalis
*      koksigeus
*      fasia endopelvik
Fungsi levator ani :
mengerutkan lumen rektum, vagina, urethra dengan cara menariknya ke arah dinding tulang pubis, sehingga organ-organ pelvis diatasnya tidak dapat turun (prolaps).
mengimbangkan tekanan intraabdominal dan tekanan atmosfer, sehingga ligamen-ligamen tidak perlu bekerja mempertahankan letak organ-organ pelvis diatasnya.
Sebagai sandaran dari uterus, vagina bagian atas, rectum dan kantung kemih. Bila otot levator rusak atau mengalami defek maka ligamen seperti ligamen cardinale, sacrouterina dan fasia akan mempunyai beban kerja yang berat untuk mempertahankan organ-organ yang digantungnya, sebaliknya selama otot-otot levator ani normal, ligamen-ligamen dan fasia tersebut otomatis dalam istirahat atau tidak berfungsi banyak.
M. Pubovaginalis berfungsi sebagai :
-          penggantung vagina. Karena vagina ikut menyangga uterus serta adnexa, vesica urinaria serta urethra dan rectum, maka otot ini merupakan alat penyangga utama organ-organ dalam panggul wanita.
-          Robekan atau peregangan yang berlebihan merupakan predisposisi terjadinya prolapsus cystocele dan rectocele
-          Sebagai sphincter vaginae dan apabila otot tersebut mengalami spasme maka keadaan ini disebut vaginismus
M. puborectalis berfungsi sebagai :
-          penggantung rectum
-          mengontrol penurunan feces
-          memainkan peranan kecil dalam menahan struktur panggul.
M. iliococcygeus berfungsi sebagai :
-          Sebagai lapisan musculofascial.
Diafragma urogenital
Fungsi diafragma urogenital:
-          memberi bantuan pada levator ani untuk mempertahankan organ-organ pelvis
2.5.2 Patologi
Prolapsus uteri terdapat dalam berbagai tingkat, dari yang paling ringan sampai prolapsus uteri kompleta atau totalis. Sebagai akibat persalinan, khususnya persalinan yang susah terdapat kelemahan-kelemahan ligament yang tergolong dalam fascia endopelvika dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul. Dalam keadaan demikian tekanan intraabdominal memudahkan penurunan uterus, terutama apabila tonus oto-otot berkurang.
Jika serviks uteri terletak di luar vagina, maka ia menggeser dengan celana yang dipakai oleh wanita dan lambat laun bias berbentuk ulkus, yang dinamakan ulkus dekubitus.
Jika fascia didepan dinding vagina kendor oleh suatu sebab, biasanya trauma obstetric, ia terdorong oleh kandung kencing ke belakang dan menyebabkan menonjolnya dinding depan vagina ke belakang, hal ini dinamakan sistokel.
Sistokel ini pada mulanya hanya ringan saja, dapat menjadi besar kar\ena persalinan berikutnya, terutama jika persalinan itu berlangsung kurang lancar, atau harus diselesaikan dengan menggunakan peralatan. Urethra dapat pula ikut serta dalam penurunan itu den menyebabkan urethrokel. Uretherokel ini harus dibedakan dari divertikulum urethra. Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal, hanya dibelakang urethra ada lubang yang menuju ke kantong antara urethra dan vagina.
Kekendoran fascia dibelakang vagina oleh trauma obstetric atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rectum ke depan dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol ke lumen vagina, ini dinamakan rectokel.
Enterokel adalah suatu hernia dari cavum douglasi. Dinding vagina atas bagian belakang turun , oleh karena itu menonjol kedepan, isi kantong hernia ini adalah usus halus atau sigmoid.
2.6 Klasifikasi
Friedman dan Little ( 1961 ) mengemukakan beberapa macam klasifikasi yang dikenal yaitu:
  • Prolapsus uteri tingkat I, dimana serviks uteri turun sampai introitus vagina ;
  • Prolapsus uteri tingkat II, dimana serviks menonjol keluar dari introitus vagina ;
  • Prolapsus uteri tingkat III, seluruh uterus keluar dari vagina; prolapsus ini juga disebut prosidensia uteri.
  • Prolapsus uteri tingkat I, serviks mencapai introitus vagina ;
  • Prolapsus uteri tingkat II, uterus keluar dari introitus kurang dari setengah bagian ;
  • Prolapsus uteri tingkat III, uterus keluar dari introitus lebih besar dari setengah bagian.
  • Prolapsus uteri tingkat I, serviks mendekati prosesus spinosus ;
  • Prolapsus uteri tingkat II, serviks terdapat antara prosesus spinosus dan introitus vagina ;
  • Prolapsus uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus. Klasifikasi ini sama dengan klasifikasi D
  • ditambah dengan prolapsus uteri tingkat IV (prosidensia uteri).
Prosidensia uteri adalah suatu penyimpangan anatomi yang paling kompleks. Dapat menjadi sistokel karena kendornya fasia dinding depan vagina (misal trauma obstetrik) sehingga vesika urinaria terdorong ke belakang dan dinding depan vagian terdorong ke belakang. Dapat terjadi rektokel, karena kelemahan fasia di dinding belakang vagina, oleh karena trauma obstetrik atau lainnya, sehingga rekrum turun ke depan dan menyebabkan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan

2.7 Diagnosa
Diagnosa ditegakkan melalui pemeriksaan vaginal dengan menggunakan Spekulum Sim  yang berdaun tunggal. Pasien diminta meneran dan pada saat yang bersamaan dokter menekan dinding posterior vagina. Dengan cara ini dapat terlihat penurunan dinding depan vagina beserta sistokel dan pergeseran muara urethra. 
Selanjutnya mintalah pasien meneran sambil menekan dinding anterior vagina, dengan cara ini dapat terlihat enterokel dan rektokel. Pemeriksaan rektal sering berguna untuk menunjukkan adanya rektokel dan membedakannya dengan enterokel. 
Keluhan-keluhan penderita, kehamilan, fisik dan pemeriksaan ginekologik umumnya dengan mudah dapat menegakkan diagnosis prolapsus genitalia.

Friedman dan Little (1961) menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut:

  1. Penderita dalam posisi jongkok disuruh mengejan, dan ditentukan dengan pemeriksaan dengan jari, apakah porsio uteri pada posisi normal, atau porsio sampai introitus vagina, atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina. Selanjutnya dengan penderita berbaring dalam posisi litotomi, ditentukan pula panjangnya serviks uteri. Serviks uteri yang lebih panjang dari biasa dinamakan elongasio kolli.
  2. Pada sistokel dijumpai didinding vagina depan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan. Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan. Jika dimasukkan ke dalam kantung kencing kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina. Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel, dekat pada orifisium urethrae eksternum.
  3. Menegakkan diagnosis rektokel yaitu menonjolnya rektum ke lumen vagina sepertiga bagian bawah. Penonjolan ini berbentuk lonjong, memanjang dari proksimal ke distal, kistik dan tidak nyeri. Untuk memastikan diagnosis, jari dimasukkan kedalam rektum, dan selanjutnya dapat diraba dinding rektokel yang menonjol kelumen vagina. Enterokel menonjol kelumen vagina lebih atas dari rektokel. Pada pemeriksaan rektal dinding rektum lurus, ada benjolan ke vagina terdapat diatas rektum.
  4. Endoskopi. Visualisasi sistoskopi peristaltik usus di bawah dasar vesika urinaria atau trigonum dapat mengidentifikasi enterokel anterior pada beberapa pasien.
    Fotografi. Fotografi pada stadium II dan prolaps yang lebih besar dapat digunakan baik untuk membuktikan kebenaran perubahan kondisi masing-masing pasien. Prosedur immaging. Teknik imaging yang berbeda telah digunakan untuk melihat anatomi dasar pelvik, defek penunjang, dan hubungan antara organ yang berdekatan. Teknik ini mungkin lebih akurat dari pemeriksaan fisis dalam menentukan organ mana yang terlibat dalam prolaps organ pelvik.
2.8 Penatalaksaan
Tindakan pencegahan dilakukan dengan mengatasi masalah: 
1.                  Penyakit pernafasan dan metabolisme kronik
2.                  Konstipasi
3.                  Gangguan intra abdominal
4.                  Pemberian estrogen pada wanita menopause
Tindakan non bedah :
  1. Olah raga untuk menguatkan otot dasar panggul
  2. Pesarium :
-          Keadaan umum tak memungkinkan tindakan pembedahan
-          Kehamilan atau pasca persalinan
-          Terapi dekubitus sebelum operasi
Pesarium dapat menyebabkan iritasi lokal dan ulserasi. Setiap 6 – 12 minggu pesarium dilepas dan dibersihkan untuk menghindari pembentukan fistula, impaksi, perdarahan dan infeksi.

Pembedahan :
Tujuan utama pembedahan : 
1.                  Mengatasi keluhan
2.                  Restorasi anatomi
3.                  Restorasi fungsi organ visera
4.                  Memulihkan fungsi seksual
Kolforafi Anterior :
digunakan untuk koreksi sistokel dan pergeseran urethra. Berupa tindakan plikasi fasia puboservikal untuk menyangga kandung kemih dan urethra.
image
Kolporafi Anterior
Kolforafi Posterior :
digunakan untuk koreksi rektokel
Perineorafi :
digunakan untuk mengatasi defisiensi corpus perineal. 

Kolporafi Posterior


Enterekol :
Prinsip terapi seperti terapi hernia. 

·           Isi kantung dikurangi
·           Leher kantung ( peritoneal sac ) diligasi
·           Penutupan defek dengan mendekatkan ligamentum uterosakral dengan muskulus levator ani
Operasi Manchester :
merupakan kombinasi dari
·         Kolforafi anterior
·         Amputasi servik yang memanjang ( “elongated cervix” )
·         Kolfoperineorafi posterior
·         Menjahit ligamentum kardinale didepan puntung servik agar terjadi anteversi uterus
Histerektomi Vaginal :
Dapat dikerjakan secara tersendiri atau disertai pula dengan dengan kolforafi anteror dan posterior. 

Colpocleisis Partial LeFort’s :
menjahit sebagian dinding anterior dan posterior vagina sehingga uterus berada di bagian atas vagina yang sebagian sudah tertutup akibat disatukannya dinding depan dan belakang vagina.
Colpocleisis Total :
Melakukan obliterasi total vagina

Kolpokleisis
Suspensi Putung Vagina ( Colpopleksi )
yang dapat dikerjakan transvaginal atau transabdominal. Tindakan ini berupa penggantungan puntung vagina pada sakrum atau pada ligamentum sakrospinosum atau ligamentum uterosakral.
A. Konservatif

Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu. Cara ini dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan, atau penderita masih ingin mendapat anak lagi, atau penderita menolak untuk operasi atau kondisinya tidak memungkinkan untuk dioperasi.
1.      Latihan-latihan otot dasar panggul

Latihan ini sangat berguna pada prolapsus enteng, terutama yang terjadi pada pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya untuk menguatkan otot-otot dasar panggul dan otot-otot yang mempengaruhi miksi. Latihan ini dilakukan selama beberapa bulan. Caranya ialah penderita disuruh menguncupkan anus dan jaringan dasar panggul seperti biasanya setelah selesai berhajat, atau penderita disuruh membayangkan seolah-olah sedang mengeluarkan air kencing dan tiba-tiba menghentikannya. Latihan ini bisa menjadi lebih efektif dengan menggunakan perineometer menurut Kegel. Alat ini terdiri atas obturator yang dimasukkan ke dalam vagina, dan yang dengan suatu pipa dihubungkan dengan suatu manometer. Dengan demikian, kontraksi otot-otot dasar panggul dapat diukur.
2.      Stimulasi otot-otot dengan alat listrik

Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat pula ditimbulkan dengan alat listrik, elektrodenya dapat dipasang dalam pessarium yang dimasukkan dalam vagina.
3.      Pengobatan dengan pessarium

Pengobatan dengan pessarium sebetulnya hanya bersifat paliatif, yakni menahan uterus di tempatnya selama dipakai. Oleh karena jika pessarium diangkat, timbul prolapsus lagi. Prinsip pemakaian pessarium adalah bahwa alat tersebut mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian atas, sehingga bagian dari vagina tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan melewati vagina bagian bawah. Jika pessarium terlalu kecil atau dasar panggul terlalu lemah, pessarium jatuh dan prolapsus uteri akan timbul lagi. Pessarium yang paling baik untuk prolapsus genitalis adalah pessarium cincin, terbuat dari plastik. Jika dasar panggul terlalu lemah, digunakan pessarium Napier yang terdiri atas suatu gagang (stem) dengan ujung atas suatu mangkok (cup) dengan beberapa lubang, dan diujung bawah 4 tali. Mangkuk ditempatkan dibawah serviks dan tali-tali dihubungkan dengan sabuk pinggang untuk memberi sokongan pada pessarium. Sebagai pedoman untuk mencari ukuran yang cocok, diukur dengan jari jarak antara forniks vagina dengan pinggir atas introitus vaginae; ukuran tersebut dikurangi dengan 1 cm untuk mendapat diameter dari pessarium yang akan dipakai. Untuk mengetahui setelah dipasang, apakah ukurannya cocok, penderita disuruh batuk atau mengejan. Jika pessarium tidak keluar, penderita disuruh jalan-jalan, apabila ia tidak merasa nyeri, pessarium dapat dipakai terus.
Pessarium dapat dipakai selama beberapa tahun, asal saja penderita diawasi secara teratur. Periksa ulang sebaiknya dilakukan 2-3 bulan sekali; vagina diperiksa inspekulo untuk menentukan ada tidaknya perlukaan; pessarium dibersihkan dan dicucihamakan, dan kemudian dipasang kembali. Apabila pessarium dibiarkan dalam vagina tanpa pengawasan yang teratur, dapat timbul komplikasi ulserasi, dan terpendamnya sebagian dari pessarium dalam vagina, bahkan bisa terjadi fistula vesikovaginalis atau fistula rektovaginalis.
B. Fisioterapi

Jika prolapsus bersifat ringan sampai sedang, dapat dirujuk kepada pakar fisioterapi untuk penanganannya. Fisioterapi dapat membantu merencanakan jadwal individual yang melibatkan senam otot dasar panggul. Senam ini, yang di sebut senam Kegel, dapat mencegah prolapsus bertambah parah dan dapat mengurangi rasa nyeri punggung, nyeri panggul dan inkontinensia urin.
C. Hormone replacement therapy (HRT)

Wanita menopaus yang mengalami prolapsus uteri dapat mendapat manfaat dari Terapi Penggantian Hormon (TPH). TPH dapat membantu menguatkan dinding vagina dan otot dasar panggul dengan meningkatkan konsentrasi estorgen dan kolagen dalam darah; tetapi tidak banyak bukti yang menyatakan apakah efektif atau tidak dalam menangani prolapsus uteri.
D. Operatif

Penanganan bedah mungkin diperlukan apabila prolapsus itu menyebabkan gejala yang bermakna. Beberapa metode tersedia dan pilihan yang mana akan bergantung kepada beberapa variabel dan kehadiran keadaan lain yang bisa mengancam. Kebanyakan tujuan dari penanganan bedah pada prolaps adalah untuk mengangkat keatas organ prolaps itu kembali ke posisi asalnya. Prosedur ini dijalankan bagi wanita yang masih ingin hamil. Histerektomi adalah satu-satunya tindakan yang sama sekali membuang organ yang prolaps itu. Bagi wanita yang telah mempunyai anak, atau yang tidak mau hamil lagi, maka histerektomi pervaginum adalah pilihan yang sesuai untuk penanganan. Pilihan operasi tergantung kepada jenis prolaps yang dialami pasien, umur, keinginan mempunyai anak lagi atau tidak, keaktifan seksual, ketrampilan operator dan juga pendapat pasien.
2.9 Prognosa
Sebagian besar wanita dengan prolapsus uteri ringan tidak mengalami gejala dan tidak butuh pengobatan. Pessarium vagina dapat sangat efektif untuk banyak wanita dengan prolapsus uteri.tindakan operasi selalu memberikan hasil yang memuaskan, meskipun beberapa wanita mungkin membutuhkan pengobatan lagi di masa akan datang untuk prolapsus dinding vagina yang berulang
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Prolapsus uteri, sistokel, urethrokel, enterokel, rektokel dan kolpokel pasca histerektomia merupakanbagian dari bentuk-bentuk Prolapsus Vagina. Sedangkan Prolapsus uteri itu sendiri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel. Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang ketegangannya. Faktor penyabab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause. Persalinan lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pada kala II, penatlaksanaan pengeluaran plasenta , reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Oleh karena itu prolapsus uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat.
Klasifikasi
Tingkat I         : Uterus turun dengan serviks paling rendah dalam introitus vagina
Tingkat II        : Uterus sebagian keluar dari vagina
Tingkat III      :Uterus keluar seluruhnya dari vagina yang disertai dengan inversio vagina (PROSIDENSIA UTERI)
3.2  Saran
Perlunya pencegah terhadap kemungkinan terjadinya prolaps uteri dengancara mengosongkan kandung kemih pada kala pengeluaran, penjahitan perineum yang lege artis, bila perlu lakukan episiotomi, memimpin persalinan dengan baik, hindari paksaan dalam pengeluaran plasenta (parasat crede).
Penanganan prolapsus uteri sebaiknya dilakukan dengan menilai keadaan dari keadaan umum pasien, umur, masih bersuami atau tidak, tingkat prolaps sehingga didapatkan terapi yang paling ideal untuk setiap pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Winkjosastro H.dr. Ilmu Kandungan. Kelainan letak-letak alat-alat genital. Edisi kedua. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta 2007. Hal. 421.

Lotisna, D. Prolaps Genitalia. Devisi uroginekologi rekonstruksi. Departemen Obstetri dan Ginekologi. FK UH. Makassar
Junizaf. Prolapsus alat genitalia. Dalam: Junizaf. Ed. Buku ajar uroginekologi.
Subbagian Uroginekologi-Rekonstruksi  Bagian Obstetri dan Ginekologi
FKUI/RSUPN-CM. Jakarta, 2002: 70-75
Rasjidi I. Manual Histerektomi. Histerektomi Vaginal. EGC. Jakarta.2008. Hal. 180-189.
Manuaba I. Dasar-Dasar Teknik Operasi Ginekologi. Operasi Prolaps Uteri. EGC. Jakarta.2004.Hal.354
Muchtar R. Kelainan dalam letak alat-alat genital. Dalam:
S, Saifuddin AB. Ed. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 1991: 360-374
Suheimi K.H.dr. (26 July 2008). Penyakit dan Kelainan Alat Kandungan. Prolapsus Uteri. http://ksuheimi.blogspot.com/2008/06/penyakit-dan-kelainan-alat kandungan_26.html .diunduh ( 26 oktober 2011 )
Clinic Mayo. Uterine Prolaps.( 10 April 2008). Womens Health. http://www.womenshealthlondon.org.uk/leaflets/prolapse/prolapse.html.diunduh     ( 26 Oktober 2011 )
Mc. Neeley. G.S. et al. ( Desember 2008 ). Gynecology and Obstetrics. Pelvic Relaxation Syndrome.
http://www.stjohnsmercy.org/healthinfo/adult/urology/cystocel.asp.diunduh ( 26 Oktober 2011 )
dr.Bambang Widjanarko, SpOG (19 Agustus 2010). Ginekologi DISFUNGSI SISTEM UROGENITAL pada WANITA.
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=anatomi panggul dan struktur penyangga organ panggul &source=web&cd=4&ved=0CDUQFjAD&url=http%3A%2F%2Fliber-siahaan.blogspot.com%2F2011%2F04%2Fginekologi.html&ctbs=lr%3Alang_1id&ei=B9SwTvSvO8uOmQWa0KC2Ag&usg=AFQjCNF1oMuJivtnMpQtVxP1M0jNKO-2Kw&cad=rja.dinduh ( 02 November 2011 )

Komentar :

ada 0 Comment ke “Prolaps Uteri”
dr danny satriyo. Diberdayakan oleh Blogger.